Tahun 2014 yang baru saja berlalu ternyata
kembali menjadi tahun yang penuh tantangan bagi perekonomian Indonesia. Kondisi
ekonomi global tidak secerah prakiraan semula. Pemulihan memang terus
berlangsung di berbagai ekonomi utama dunia, namun dengan kecepatan yang tidak
sesuai dengan harapan dan tidak merata. Harga komoditas dunia pun terus melemah
karena permintaan belum cukup kuat, khususnya dari Tiongkok. Di sektor
keuangan, ketidakpastian kebijakan telah meningkatkan kerentanan dan
volatilitas di pasar keuangan dunia. Sebagai negara berkembang (emerging
market), kita turut merasakan adanya pergeseran arus modal asing keluar dari
Indonesia. Selain itu, kita juga dapat mengamati adanya divergensi kebijakan
moneter di negara-negara maju. Berbeda dengan the Fed yang berencana melakukan
normalisasi kebijakan moneternya, bank sentral Jepang dan Eropa masih perlu
menempuh kebijakan moneter yang sangat akomodatif.
Pertumbuhan
ekonomi dunia yang melambat mengakibatkan turunnya harga-harga sejumlah
komoditas Indonesia, selain juga memperkecil hadirnya peluang-peluang baru.
Namun estimasi pertumbuhan yang mengecil ini dapat berbalik arah, bila
investasi melampaui harapan pada tahun 2015. Namun
banyak tantangan lain yang harus dihadapi. Misalnya, sampai akhir bulan
Oktober, penyerapan belanja modal Pemerintah (capital expenditure) hanya 38 persen dari persiapan pendanaan untuk
tahun 2014 -- jauh di bawah angka pada tahun 2012 dan 2013 untuk periode yang
sama. Defisit neraca berjalan berkurang, namun sedikit, yakni di angka
USD 6,8 milyar atau 3,1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada triwulan
ketiga tahun ini. Penurunan secara bertahap diperkirakan akan terus berlangsung,
dan defisit neraca berjalan diperkirakan mencapai 2,8 persen pada tahun 2015.
Penghematan fiskal berjumlah lebih dari Rp100 Triliun
dari penyesuaian harga BBM kini memberikan ruang kepada Pemerintah untuk
menambah belanja publik bagi sektor-sektor yang prioritas, seperti pelayanan
kesehatan. Indonesia menghabiskan hanya 1,2 persen dari PDB untuk
pelayanan kesehatan; salah satu alokasi kesehatan terendah bila dibandingkan
negara-negara lain di dunia. "Pembelanjaan yang lebih baik, termasuk untuk
pelayanan kesehatan dan program-program perlindungan sosial, dapat mempercepat
upaya pengentasan kemiskinan yang telah melambat beberapa tahun terakhir. Tanpa
dukungan tambahan ini terhadap upaya pengentasan kemiskinan, tingkat kemiskinan
di Indonesia - yang kini 11,3 persen - akan tetap berada di atas 8 persen pada
2018 sekalipun," kata Ndiame Diop, Ekonom Utama Bank Dunia untuk
Indonesia.
Daftar
Pustaka :
http://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan-tahunan/perekonomian/Pages/LPI_2014.aspx
http://www.worldbank.org/in/news/press-release/2014/12/08/indonesia-to-grow-by-5-2-percent-in-2015-world-bank-report
http://www.worldbank.org/in/news/press-release/2014/12/08/indonesia-to-grow-by-5-2-percent-in-2015-world-bank-report



0 komentar:
Posting Komentar